Erlazetcharity.id – Dalam Islam, kita diperintahkan untuk bekerja untuk memenuhi kenbutuhan hidup serta mampu untuk melaksakan yang menjadi perintah agama. Tentunya, agar terjadi keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work life balance), perlu adanya satu cara mengelola waktu yang baik dan efektif.
Mengelola waktu atau manajemen waktu merupakan sebuah kemampuan untuk mengatur, mengorganisasikan, atau memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk aktivitas dan tujuan yang bermanfaat. Untuk mencapai kualitas hidup yang optimal, sudah seharusnya kita mengatur waktu kapan harus bekerja, kapan waktu bersama keluarga, kapan waktu istirahat, dan yang terpenting membagi waktu untuk beribadah, hadir dalam kajian, serta silaturahmi.
Rasulullah SAW sebagai teladan umat dalam berbagai hal telah memberikan contoh bagaimana beliau mengelola waktu. Dengan meneladani cara Rasulullah SAW dalam mengatur waktu, seseorang dapat mencapai keseimbangan antara ibadah, pekerjaan, dan istirahat.
Lebih dari itu, praktik manajemen wkatu ala Rasulullah SAW tersebut tak hanya menjadikan hidup lebih produktif, melainkan juga menjadikan seseorang hidup dalam keberkahan. Lalu, bagaimana cara Rasulullah membagi waktu? Nah, sahabat dapat mengetahui jawabannya dalam artikel di bawah ini secara lengkap, baca sampai selesai ya!
Islam Sangat Mementingkan Waktu
Islam memiliki perhatian yang cukup besar terhadap waktu dari berbagai sisi dan dengan gambaran yang beragam. Hal ini termanifestasikan dalam ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan waktu, Allah SWT telah bersumpah dengan aktu-waktu tertentu dalam beberapa surat Al-Quran diantaranya QS. Al-Lail (waktu malam), an-Nahar (waktu siang), al-Fajr (waktu fajar), adh-Dhuhfa (waktu matahari sepenggalahan naik), dan al-Ashr (masa).
Mengutip dari republika.co.id, Ketika Allah SWT bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan akan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.
Rasulllah SAW pun telah mengabarkan bahwasannya waku merupakan salah satu nikmat diantara banyaknya nikmat yang harus disyukuri. Salah satu bentuk dari rasa syukur atas nikmat waktu yang diberikan, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan waku tersebut untuk ketaatan dan kebermanfaatan.
Dalam salah satu hadits, Rasulullah menyebutkan bahwa waktu merupakan salah satu nikmat yang kebanyakan orang merugi karenanya. Rasulllah SAW bersabda: “Ada dua nikmat yang kebanyakan orang merugi padanya: waktu luang dan kesehatan.” (HR Bukhari).
Mengutip dari uin-antasari.ac.id, Dr. A’idh al-Qarni dalam bukunya, La Tahzan (h. 15), mengumpamakan waktu yang kosong tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara China. Di penjara itu, narapidana ditempatkan di Bawah pipa air yang hanya dapat menetekan air stete setiap menit selama bertahun-tahun.Dalam masa penantian yang Panjang itlah, biasanya seorang napi akan menjadi stress dan gila.
Berkaitan dengan waktu dan cara mengaturnya, setiap orang memiliki waktu yang sama dalam satu hari yakni 24 jam. Waktu yang sama tersebut harus diatur sedemikian rupa agar terjadinya keseimbangan antara kebutuhan akal (belaja, kajian, membaca), jasad (bekerja, olahraga, istirahat, makan, dll), dan ruh (ibadah).
Mengutip dari Tebuireng Online, Syaikh Mahmud Al-Mishri mengingatkan akal, jasad dan ruh sebagai unsur penting kehidupan manusia. Akal membutuhkan kegiatan membaca, tadabur dan menganalisis persoalan dunia-akhirat. Jasad membutuhkan makan, minum dan istirahat. Sedangkan kebutuhan ruh adalah memproduksi sebanyak mungkin amal soleh.
Seni Mengatur Waktu Ala Rasulullah SAW
Rasulullah SAW merupakan teladan bagi umat Islam dalam berbagai hal, termasuk dalam mengatur waktu. Berikut adalah bebera cara atau seni mengatur waktu yang dijalankan oleh Rasulullah SAW yang dapat kita ketahui dan aplikasikan.
1. Menentukan prioritas
Rasulullah SAW mengajarkan efesiensi dalam mengerjakan tugas sehari-hari. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan aktu, melakukan segala pekerjaan engan cepat tanpa menunda. Beliau senantiasa memprioritaskan hal-hal dari yang paling penting sebagaimana memberikan perhatian khusus kepada masalah yang mendesak dan penting bagi umatnya.
2. Membuat perencanaan waktu dengan baik
Sebagaimana dijelaskan di atas, kita semua harus senantiasa membuat perencanaan waktu dengan baik supaya terciptanya keseimbangan antara pekerjaan, diri sendiri, dan keluarga.
Rasulullah SAW dalam hal ini selalu membuat perencanaan waktu dengan baik, terlebih ketika beliau hendak safar, beliau selalu merencanakan dengan baik dan mengatur waktu istirahat yang cukup untuk safar.
3. Tidur dan bangun lebih awal
Rasulullah SAW mengatur waktu tidurnya menjadi tiga bagian yaitu setelah Isya, sebelum subuh, dan qailullah (tidur siang menjelang waktu Zuhur).
Berdasarkan hadits ari Abu Barzah RA. menyebutkan “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai tidur sebelum salat Isya’ dan berbincang-bincang setelahnya”. (HR. Bukhari & Muslim)
Kemudian, berkaitan dengan waktu bangun beliau, Rasulullah diperintahkan untuk bangun pada tengah malam. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Muzammil ayat 1-3 “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah seperdua itu sedikit.”
Setelah bangun lebih awal, Rasulullah kemudian menghidupkan aktu malamnya untuk shalat, berdoa, berdzikir, dan berkhalwat dengan Allah. Setelah itu, beliau tidur Kembali sebentar lalu bangun mempersiapkan shalat subuh.
Kemudian Rasulullah SAW menganjurkan untuk tidur siang sebagaimana hadits dari Anas ra, Nabi saw bersabda, “Tidurlah qailulah (tidur siang) karena setan tidak mengambil tidur siang.” (HR. Abu Nu’aim)
4. Membagi waktu menjadi tiga bagian
Rasulullah membagi waktu dalam hidupnya menjadi tiga bagian yakni waktu untuk Allah (haqqullah), waktu untuk diri sendiri (haqqul nafs), dan waktu untuk orang lain (haqqul ibad).
Waktu untuk Allah merupakan waktu yang paling utama, dalam waktu ini fokus akan dirahkan pada ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat, serta ibadah sunnah seperti tilawah, dzikir, dan berdoa.
Waktu untuk diri sendiri ialah waktu yang digunakan untuk memenuhi hak diri sendiri seperti menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional. Rasulullah dalam hal ini menekankan pentingnya waktu tidur yang cukup, makan makanan yang bergizi dan berolahraga.
Waktu untuk orang lain ialah waktu yang digunakan untuk berinteraksi dan memberi manfaat kepada sesama. Dalam hal ini, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga, teman dan masyarakat, serta turut aktif dalam berbagai kegiatan social.
5. Jauhi sikap menunda-nunda
Menunda pekerjaan merupakan kebiasaan yang yang kurang baik serta dapat merusak produktivitas dan mengganggu keseimbangan hidup.
Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa sebaik-baik urusan adalah yang diselesaikan dengan cepat. Agar memiliki manajemen waktu yang baik dan tercapainya keseimbangan dalam hidup, hindari sikap menunda-nunda sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
6. Jadikan Waktu sebagai Sesuatu yang Penting
Memiliki pandangan waktu sebagai bagian terpenting dalam hidup merupakan salah satu landasan dari kedisiplinan. Seseorang yang menganggap penting akan hal tersebut ia enggan untuk datang terlambat, menunda pekerjaan, serta abai terhadap janji dengan orang lain.
Dalam hal ini, Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana senantiasa tepat waktu bila memiliki janji, serta menghomati waktu dan komitmen orang lain.
Bagaimana Cara Menerapkan Seni Mengatur Waktu Ala Rasulullah dalam Kehidupan?
Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan pepatah orang arab yang mengatakan: Al-waqtu kassaif, fa in lam taqtha’hu qatha’aka (Waktu adalah seperti pedang, maka jika kamu tidak menebaskannya, ia yang akan menebasmu).
Pepatah tersebut merupakan perumpamaan betapa pentingnya waktu karena ia selalu berjalan tanpa kompromi, dan yang pastinya waktu yang telah berlalu tak akan pernah Kembali. Lalu, bagaimana cara memanfaatkan waktu agar bermanfaat dan tidak berlalu begitu saja?
Dari beberapa seni mengatur waktu ala Rasulullah di atas, berikut adalah beberapa langkah sederhana baik secara teknis maupun pandangan yang dapat coba sahabat terapkan.
1. Sadari akan pentingnya waktu
2. Jadikan waktu shalat sebagai poros
3. Buat skala prioritas
4. Buat jadwal dan perencanaan
5. Lakukan (eksekusi) apa yang telah direncanakan
Sahabat, itulah beberapa cara atau seni mengatur waktu ala Rasulullah dan langkah-langkah sederhana dalam menerapkannya. Waktu merupakan sesuatu yang penting dan satu detik yang berlalu dipastikan tidak akan terulang lagi, mari memanfaatkannya sebaik mungkin agar terciptanya keseimbangan dalam kita.
Selain mempelajari bagaimana seni Rasulullah mengatur waktu, sahabat juga dapat mengetahui cara Rasulullah mengatasi rasa sedih dalam artikel berikut ini: Cara Mengatasi Sedih Ala Rasulullah SAW
Referensi:
UIN Antasari. Manajemen Waktu Menurut Islam. Diakses 27 September 2024 dari https://www.uin-antasari.ac.id/manajemen-waktu-menurut-islam/
Khazanah Republika. Rahasia Manajemen Waktu Rasulullah. Diakses 27 September 2024 dari https://khazanah.republika.co.id/berita/nslm5t313/rahasia-manajemen-waktu-rasulullah
Tebuireng Online. Cara Rasulullah Membagi Waktu Sehari-hari. Diakses 27 September 2024 dari https://tebuireng.online/cara-rasulullah-membagi-waktu-sehari-hari/
Suara Aisyiyah. Meraih Keberkahan dengan Manajamen Waktu. Diakses 27 September 2024 dari https://suaraaisyiyah.id/meraih-keberkahan-dengan-manajemen-waktu/
